Belajar Kejujuran dari Alm. KH. Salahuddin Wahid

PERCIK.ID- Sebelum seseorang menjadi apa yang dia kejar, baik pengusaha, penguasa, serbabisa, tampaknya tangga pertama yang harus dilalui ialah jujur. Ini pula yang dilakukan Kanjeng Rosul. Sayang, kita lemah akal untuk memahami ini.

Almarhum Gus Solah berkali-kali menasihat santrinya demikian. Waktu itu saya hanya sebatas memahami bahwa jujur itu tidak berbohong. Tak lebih. Lalu semakin dewasa saya merasakan kejujuran terus berkembang dan menuntut keterlainan yang saling menyilang dan mengaitkan.

Pemaknaan luas itu bermula dari hal-hal kecil. Jujur pada diri sendiri, jujur pada keluarga, jujur pada teman, jujur pada orang lain, jujur pada orang yang tak dikenal, jujur pada negara, jujur pada agama, sampai jujur pada alam semesta raya.

Ketika beliau mencintai kebersihan dan kedisiplinan, misalnya, maka beliau tak segan untuk langsung memungut sampah setiap yang ditemui datang lebih awal dari waktu yang dijanjikan atau komitmen mengabarkan jika telat dan berhalangan. Inilah bukti kejujuran beliau pada dirinya, orang lain, agama, sampai pada Tuhan Yang Mahatakterdefinisikan.

Kita kehilangan jejak, jujur hanya pada mulut. Di luar itu berasa lain soal. Padahal kejujuran sejati perlu pembuktian, pengawalan, tuntutan, hingga akhirnya tercipta keselarasan pada alur kejujuran berikutnya.

Saya pernah membaca tulisan beliau di sebuah kata pengantar buku tebal. Di situ beliau menuliskan bahwa amal saleh itu bukan sekadar ritual atau output belaka yang saleh. Tapi, amal saleh dikatakan saleh jika melalui tiga tahapan, yakni niatnya saleh, caranya saleh, dan capaiannya saleh. Jika dari ketiganya tidak saleh, belum dikatakan amal saleh yang sesungguhnya.

Tetiba saya termenung di paragraf ini. Dari mana beliau memiliki definisi ini--yang padahal berkali-kali pula beliau jujur tidak memahami bahasa Arab dengan mendalam, maka jelas referensi beliau ya kehidupan dan pengalaman beliau itu sendiri yang mengajarkan. Bukan dari teks, atau hafalan quote yang bisa dilakukan oleh siapa saja dengan disiplin waktu dan ketekunan tekad.

Kini ketika tahun demi tahun berjalan, saya mulai sedikit demi sedikit memahami nilai-nilai yang dulu pernah beliau tanamnkan. Berat, berat sekali. Bagaimana kita bisa berbuat jujur di tengah kondisi yang tipu daya merajai, di tengah kondisi badai terus mengguncang, di tengah perahu yang bocor tak tampak mata, sulit untuk menjaga keseimbangan nilai kenabian ini.

Pernah suatu ketika, sekeliling menggiring ketidakjujuran, dengan kepolosan saya menolak. Tapi mereka menekan agar ikut arus akut. Saya tetap ngeyel. Lalu saya diasingkan, hingga waktu membuktikan orang tersebut pun begitu dan terus—atau lebih tepatnya sering kaliberkarakter demikian. Pun pada akhirnya, kami berjarak. Dan benar saja, air dan minyak meski bisa dalam satu wadah, tapi tak bisa bercampur satu sama lain dengan indah, berperang tanpa gesekan suara. Tak ada yang kalah dan menang, hanya menempatkan pada tempatnya masing-masing.

Alhasil, perlahan saya memahami. Jika dalam suatu hal kita gagal, mungkin itu cara Tuhan menyelamatkan. Ada banyak cara yang kita terlalu kerdil memahami. Demikian pula, ketika kita berhasil, jangan perpongah merayakan, siapa paham bahwa itu ada sebutir ketidakjujuran yang terabaikan.

Terakhir, potongan ini sering kali terlintas, mengingatkan saya bahwa belum berhasil menempuh doktoral, gagal beasiswa, telat jadi orang pada umumnya, tertunda hal remeh, didurhakai diri sendiri, terjegal ini itu, tak masalah selama tidak melahirkan masalah-masalah berikutnya:

"Anak-anakku sekalian," ucap beliau dengan suara serak basah khasnya, "Negeri ini tidak kuang dari orang pintar, coba kamu lihat semua banyak yang punya gelar, dan ahli dalm berbagai bidang, tapi yang dibutuhkan negeri ini gak cuma pintar, melainkan jujur", beliau memungkasi dengan pertanyaan yang tak perlu dijawab, "Apa gunanya pintar tapi korupsi?"

Fathurrochman Karyadi (Atunk)
Alumni Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang fb
 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama